Kamis

Long vacation

Part I

Pagi itu tanggal 1 januari 2009,Hujan gerimis mengguyur kota Malangku.menghambat langkahku menuju toko fotocopy yang masih 100 meter dari tempatku saat itu.Perlahan gerimis itu berubah semakin deras,membuatku menyerah dan berteduh poskamling warga sekitar yang terletak didepan rumah berpapan nama "ketua RW" berjarak 3 meter dariku.
"untung lagi libur kerja,jadi g buru-buru.Apalagi payungku lagi rusak"batinku sendiri saat itu.
dengan sabar aku menunggu hujan reda,tapi sepertinya hujan tak menyadari hal itu,dia sedang asik melepas kangennya pada bumi hingga kira-kira hampir 2 jam sudah aku membuang waktuku percuma hanya untuk memandangi dia yang menari kegirangan di atas aspal.dan sesekali menyapaku dengan titik-titik airnya yang melompat ke permukaan kulitku tanpa permisi.Ingin aku mengumpatnya...tapi kuarasa dia tak bersalah.Jadi kupilih untuk memeberikan seikit rasa toleransiku padanya.Kupilih jalan lain untuk menghabiskan waktu menunggunya bosan bercumbu rayu dengan bumi ini.
Kulayangkan pandangan mataku pada lalu lalang kendaraan yang melintas di hadapanku.sebuah mobil honda swift warna biru metalic meluncur kencang sambil menekan klacson kencang-kencang.mengusir semua kendaraan di depannya terutama motor gede ber merk kawasaki yang nampaknya agak kewalahan menerjang derasnya hujan.dan nampak di seberang jalan dua orang gadis berjilbab sedang berjalan pelan-pelan di bawah payung warna hijau muda menyusuri trotoar sempit yang sebentar lagi terendam dengan luapan air dari selokannya yang tersumbat.Samar-samar mataku menangkap satu sosok yang rupanya bernasib sama denganku,sebuah tubuh berbalut kaos putih dan celana jeans 3/4 warna biru gelap.menurut perkiraanku dia laki-laki.
"Give me little try....haiiiiiiiiiiiyaaaaaaa"begitu syair lagu original sountrack pricess hour yang melantun keras dari handphone ku,membuyarkan pengamatanku pada sosok yang berdiri lurus di hadapanku itu
"ya... Nor.."sambutku pada sapaan Halo dari seberang sana.
"d mana?"
"di jalan... lagi berteduh,di sini hujan deres banget"Jelasku pada Nora..temen satu kamarku di kosku yang terletak di jalan Mayjend Panjaitan no.85 kota ini."kanapa Nor..?" sambungku.
aku pikir kamu di kosan... mau minta ankatin jemuranku di lantai atas.tapi da hujan ya sudah g jadi"
"ooooo...tenang da aku titipin mbak Min,moga aja dia g lupa"
"moga-moga aja ya..soalnya da menipis stok baju keringku ..Fa.."
"sama..Nor"
"ya udah klo gitu aku kerja lagi ya Fa.."
"ok.."
Sambungan seluler kami terputus dan usai sudah obrolan singkat itu,tapi Hujan masih saja deras meski tak selebat tadi,tapi aku rasa masih cukup membuatku basah kuyup kalau aku menerjangnya.Dan aku ga mau nekat mengambil resiko itu,karena efeknya g cukup cm basah..bisa berkembang jadi masuk angin,flu dan 2 sahabat mereka yaitu batuk dan demam.
"uhfffffff ..... aku bosan,ini sudah hampir 3 jam"keluhku dalam hati
sekali lagi aku coba menyapu pemandangan samar-samar di balik tirai hujan yang rimbun.dan sekali lagi aku tersita pada sosok yang berdiri tegak lurus di hadapanku.Dan kali ini aku yakin 100% dia laki-laki atau Pria,karena tak aku dapati tektur menonjol pada dadanya saat dy mengganti posisi tubuhnya menghadap ke samping,meski durasinya hanya beberapa menit saja,itu sudah cukup membuatku yakin akan jenis kelaminnya.
Bosan aku rasanya..tak tahu lagi harus bagaimana mengusir rasa ini,andai saat ini aku tidak berteduh di pos kamling..seandainya di jalanan ini di bangun sebuah Coffe shop,aku kan berteduh di sana sambil duduk di dekat jendela menikmati segelas black coffe panas.Ataw setidaknya aku tidak sendiri saat ini ada seseorang yang menemaniku di sini berbagi cerita satu sama lain,atau membahas hal- hal ringan.jadi aku tidak bengong tanpa arah tujuan seperti ini.Seandainya sosok yang di depan itu berteduh bersamaku,munkin saat ini aku tidak akan main tebak-tebakan dengan jenis kelaminnya.Mungkin saat ini kami sudah asyik bercerita tentang genre musik,atau munkin menggunjinkan tentang cuaca yang tak menentu ahir-ahir ini.
Ternyata kulitnya kuning langsat,tapi tetap kelihatan macho dengan beberapa otot yang nampak terbentuk dengan baik membalut tubuhnya."hmmmmmmm tampan juga" gumamku sendiri.perlahan tapi pasti aku bisa melihat bagaimana parasnya.sepasang bibir mungil berwarna pucat nampak bergetar menggigil kedinginan di bawah naungan hidung mancungnya,di lengkapi sepasang bola mata berwarna coklat terang berbingkai alis tebal bersinar tajam lurus ke arahku..."eits ke arahku?berarti dy melihat padaku..?aduuuh jangan -jangan dia sadar kalau aku memperhatikannya"batiku sambil segera manundukkan kepalaku seolah memandang layar handphoneku berpura-pura sedang mambaca sms.
"semoga saja dugaanku salah"gumamaku seraya memberanikan diri mengangkat kepalaku menatap hujan yang mulai sedikit reda
"ah..."aku terkejut ketika kedua mata kami saling bertatapan,rasa malu segera menguasaiku dan sialnya rupanya aku tak dapat menyembunyikan rona merah pipiku ketika dia melempar senyumnya padaku yang berkembang menjadi tawa kecil.Satu-satunya cara yang terpikir untuk meminimalisir rasa ini hanya dengan mendongakkan kepalaku seolah mencoba mencari tahu cuaca saat itu yang jelas-jelas hujan,meski memalukan,tapi cukup ampuh mengembalikan kestabilan mentalku.Dalam hitungan detik aku sudah tenang dan mampu menyajikan senyum balasan untuknya,yang di balas dengan senyuman pula,sebuah senyuman manis dari sepasang bibir pucatnya.Dan selanjutnya kami terdiam di tempat masing-masing hingga hujan reda,meski sesekali kami saling mencuri pandang.
Hujan mulai menjinak, rintiknya tak lagi sederas tadi.sudah lebih lembut dan terkesan manis akupun segera beranjak dari tempatku berteduh,Kembali ke niatku semula keyika melewati jalan ini.sesaat kami sempat bertatap muka saling menganggukkan kepala sebagai pengganti kata pamit.Aku meneruskan langkahku menuju toko foto copy.dan dia pun segera beranjak melesat pergi ke arah berlawanan dengan motor bebeknya yang tak kukenali apa merknya.lagian tak ada pentingnya buatku.
******
"yang bulan Desember mbak...yang ini juga" pintaku pada mbak-mbak pelayan toko foto copy itu

to be continue

Minggu

Short story of the day .......................how?

Istri saya adalah seorang Marketing, saya mencintai sifatnya yang alami
dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di perasaan saya, ketika
saya bersandar di bahunya. Tiga tahun dalam masa
perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, harus saya akui, bahwa
saya mulai merasa lelah. Alasan-alasan saya mencintainya dulu telah
berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Saya seorang Pria yang sentimentil meski terkadang saya nampak cuek dan tak peduli.Tak jarang Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang
anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya
dapatkan. Istri saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa
sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana
yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan
saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan PERCERAIAN!

"Mengapa?" tanya Istri saya dengan terkejut.

"Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan" jawab saya.

Istri saya terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya,
tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang wanita yang bahkan tidak dapat
mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?

Dan akhirnya istri saya bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk mengubah pikiran kamu?"

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Saya punya
pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam perasaan saya,
saya akan mengubah pikiran saya.

Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing
gunung. Kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati.
Apakah kamu akan memetik bunga itu untuk saya?"

Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok."

Perasaan saya langsung gundah mendengar responnya. Keesokan paginya,
dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan
coret-coretan tangannya di bawah sebuah gelas yang berisi susu hangat
yang bertuliskan. ..

"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."

Kalimat pertama ini menghancurkan perasaan saya. Saya melanjutkan untuk membacanya.

"Kamu selalu pegal-pegal setelah kamu usai mengerjakan tugasmu yang tak berkesudahan

, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kaki kamu
yang pegal."

"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu khawatir kamu akan menjadi
'aneh'. Saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghibur kamu di
rumah atau meminjamkan lidah saya untuk menceritakan hal-hal lucu yang
saya alami."

"Kamu selalu terlalu dekat menonton televisi, terlalu dekat membaca
buku, dan itu tidak baik untuk kesehatan mata kamu. Saya harus menjaga
mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong
mengguntingkan kuku kamu dan mencabuti uban kamu."

"Tangan saya akan memegang tangan kamu, membimbing kamu menelusuri
pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan
warna-warna bunga yang bersinar dan indah ."

"Tetapi Sayang, saya tidak akan mengambil bunga indah yang ada di
tebing gunung itu hanya untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat
air mata kamu mengalir menangisi kematian saya."

"Sayang, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintai kamu lebih
daripada saya mencintai kamu. Untuk itu Sayang, jika semua yang telah
diberikan tangan saya, kaki saya, mata saya tidak cukup buat kamu, saya
tidak bisa menahan kamu untuk mencari tangan, kaki, dan mata lain yang
dapat membahagiakan kamu."

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya.

"Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca jawaban saya. Jika
kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkan saya untuk
tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang
sedang berdiri di sana menunggu jawaban kamu."

"Jika kamu tidak puas dengan jawaban saya ini, Sayang, biarkan saya
masuk untuk membereskan barang-barang saya, dan saya tidak akan
mempersulit hidup kamu. Percayalah, bahagia saya adalah bila kamu
bahagia."

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu
dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang segelas susu dan roti
kesukaan saya.

Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih daripada dia mencintai saya.

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur
hilang dari perasaan kita, karena kita merasa dia tidak dapat
memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu
sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita
bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan
kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu. Karena cinta tidak selalu
harus berwujud "bunga"

*sometimes woman being so complex while man being so simple

dan begitu sebaliknya *

Have a WONDERFUL LIFE out there..!!